Masa Kecil

MASA kecil Rita Widyasari tak jauh berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Lahir di Tenggarong 7 November 1973, Rita merupakan anak kedua dari pasangan Syaukani Hasan Rais dan Dayang Kartini.

Semasa kecil, Rita punya catatan prestasi akademis ketika masih bersekolah. Rangking 1, 2 dan 3, selalu diraihnya. Ia selalu berada dalam 3 besar rangking di kelasnya.

Maka tidak heran jika Rita menjadi murid teladan di sekolah. “Kelas 4 sampai 6 SD itu saya juara 1 terus,” akunya, dalam sebuah wawancara dengan Antara.

Di sekolah, Rita juga dikenal sebagai murid multitalenta. Dibidang ekstrakurikuler, Rita pernah juara olahraga, mulai dari lomba lari sprint dan tenis. Ia juga pernah menjadi mayoret marching band dan piawai membaca puisi. “Kalau baca puisi, itu mengalir dari bapak saya. Bapak saya itu suka baca puisi,” tuturnya.

18447411_218039332033255_2712613999120077317_n

Di masa-masa sekolah ini juga Rita punya cerita menarik dibidang ekstrakurikuler, terutama ketika sang ibunda, Dayang Kartini, meminta Rita untuk ikut lomba menari. “Juara pula. Saya bahkan sempat dibayar. Dari kelas 4 SD sampai kelas 2 SMP, saya penari Dayak dan Dance Modern. Namanya Kutai Dancing Club,” ceritanya.

Di luar aktivitas akademisi pula, masa kecil Rita juga banyak diisi dengan rutinitas kreatif. Ia pernah mengikuti fashion show dan meraih juara. Menurut sang ibunda, Rita memiliki postur serupa model. Tubuhnya cukup tinggi dari teman-teman sebaya.

18557327_218039315366590_2826135260902766960_n (1)

Di masa itu pula, Rita dididik dengan keras oleh sang ayahanda. Meski dulu almarhum Syaukani Hasan Rais sudah jadi pejabat publik, Rita tetap low profile dan tampil seperti anak pada umumnya. “Saya bergaulnya tidak pilih-pilih. Saya bergaul dengan semua orang,” akunya.

Menariknya, Rita tak pernah merasa ayahnya adalah seorang pejabat. Sebab dalam keseharian, Rita menganggap almarhum Syaukani laiknya ayah-ayah lain, yakni sebagai kepala keluarga. Maka wajar, di masa dulu, Rita enggan mendapat perlakuan istimewa. “Ke mana-mana ya naik sepeda motor,” ujarnya.

Didikan paling disiplin dari sang ayah dirasakan Rita ketika menempuh pendidikan. “Soal pendidikan, bapak saya itu keras. Kalau malam, mulai jam 7 sampai 9, kami harus belajar. Kalau tidak dia marah. Dan kami di akhir kenaikan kelas itu pasti ditanya, juara enggak?” kenangnya.

Lalu, bagaimana dengan image Rita saat ini yang dikenal kalangan anak muda sebagai pejabat yang suka musik metal?

Musik metal sebenarnya menjadi bagian dari hidup Rita Widyasari sejak dulu.
“Musik metal buat saya itu susah. Karena kan tinggi suaranya, dimainkan dengan nada keras dan kencang. Suaranya juga beda. Jadi saya sangat menghargai tingkat kesulitan itu. Kok orang itu bisa memainkan musik metal. Musik metal butuh keahlian khusus,” tutupnya. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s